Wednesday, August 6, 2014

Masalah di Balik Potensi Indonesia pada Asean Economic Community


Gerbang menuju kominatas ekonomi masyarakat Asia Tenggara atau kerap disebut sebagai Asean Economic Community (AEC) benar-benar sudah di depan mata, tahun 2015 merupakan tahun - tahun awal pelaksanaannya. Meskipun begitu, tak sedikit orang yang masih sangat awam dengan istilah itu. Asean Economic Community (AEC) merupakan sebuah komunitas masyarakat dikawasan Asia Tenggara di bidang ekonomi, pembentukan komunitas ini diarahkan kepada pembentukan integrasi ekonomi kawasan dengan mengurangi biaya transaksi perdagangan, memperbaiki fasilitas – fasilitas perdagangan dan bisnis, serta meningkatkan daya saing sektor UMKM. Kemudian pembentukan komunitas ini juga bertujuan untuk mencipkan pasar tunggal dan basis produksi yang stabil, makmur, memiliki daya saing tinggi, dan secara ekonomi terintegrasi dengan regulasi efektif untuk perdagangan dan investasi yang di dalamnya akan terjadi arus bebas lalu lintas barang, jasa, investasi, modal, serta difasilitasinya kebebasan pelaku usaha dan tenaga kerja.
Asean Economic Community (AEC) akan berfokus pada dua belas sektor utama, terdiri dari tujuh sektor barang yang mencakup industri pertanian, industri peralatan elektronik, industri otomotif, industri perikanan, iindustri berbasis karet, industri berbasis kayu, dan tekstil. Kemudian lima sektor lainnya terletak pada sektor jasa yang meliputi transportasi udara, pelayanan kesehatan, pariwisata, logistik, dan industri teknologi informasi.
Indonesia sebagai salah satu negara anggota ASEAN pasti akan masuk dalam komunitas tersebut mau ataupun tidak mau. Di Era keterbukaan pasar global ASEAN yang tinggal menghitung bulan itu, sebetulnya Indonesia memiliki kesempatan besar untuk mendapatkan keuntungan secara ekonomi yang sangat signifikan bila seluruh masyarakat Indonesia benar – benar siap menghadapinya. Namun jika kesiapan itu belum dimiliki, bukan tidak mungkin kesempatan itu justru malah menjadi bumerang yang menyebabkan kebuntuan ekonomi di Indonesia.
Potensi telah dimiliki oleh Indonesia untuk menghadapi persaingan Asean Economic Community (AEC) mendatang, diantaranya :
1.      Indonesia merupakan pasar potensial yang memiliki luas wilayah dan jumlah penduduk yang terbesar di kawasan ASEAN, hal ini tentunya dapat menjadikan Indonesia sebagai negara yang memiliki kegiatan ekonomi yang produktif dan dinamis yang dapat memimpin persaingan pasar bebas ASEAN di masa yang akan datang.
2.      Indonesia dengan segala kekayaannya merupakan negara utama tujuan para investor di ASEAN.
3.      Indonesia benrpeluang menjadi negara pengekspor dengan segala kekayaan perut buminya dan alam hayatinya.
4.      Liberalisasi pedagangan ASEAN akan menjamin kelancaran arus perdagangan tanpa adanya hambatan tarif.
Potensi hanyalah potensi, bila tidak dikembangkan dengan benar maka potensi akan tetap tenggelam. Melihat kondisi wajah Indonesia sekarang ini, bukan tidak mungkin potensi hanya akan menjadi karang yang tenggelam. Sejujurnya sudah sangat terlambat apabila berkata belum siap, karena gerbang sudah berada di depan mata. Bukan pesimis, ciut nyali, ataupun merendahkan diri, namun sadarlah dan mulailah berpacu persiapkan diri lebih baik terlambat dari pada tidak berbuat.
Mengapa saya katakan demikian, karena kuantitas penduduk Indonesia tidak diimbangi dengan kualitas keahlian dan pendidikannya. Ditambah lagi dengan sifat konsemerisme sangat tinggi yang dimiliki oleh masyarakat Indonesia, bukan tidak mungkin Indonesia hanya akan menjadi pasar empuk para produsen asing untuk menjajakan produknya. Masalah lainnya yang akan timbul adalah kesejahteraan masyarakat rata - rata otomatis akan menurun dikarenakan upah tenaga kerja yang rendah karena keahliannya pun rendah. Seharusnya Pemerintah pun tak hanya mensosialisakan saja namun mulai membekali para masyarakat dengan keahlian – keahlian. Namun, tampaknya sosialisasi pun tak berjalan mulus pasalnya saya sendiri mengetahui tentang Asean Economic Community ini pun dari sosialisasi – sosialisasi di kampus saya, itu pun peserta sosialisasinya kebanyakan berasal dari mahasiswa fakultas ekonomi, sisanya mungkin hanya segelintir dari mahasiswa jurusan lain yang hadir. Bahkan saat saya membicarakan tentang AEC ini pada teman saya yang berasal dari fakultas lain pun beberapa belum mengetahuinya, nampaknya kurang ada ketertarikan pada masalah ini. Padahal kenyataannya yang akan menghadapi pasar bebas ASEAN ini adalah kita semua dan bukan hanya perkumpulan ekonom semata.
Siapa yang tidak kenal dengan Indonesia dengan kekayaannya alamnya yang membuat silau dan iri bangsa lainnya. Namun disisi lain, Kelebihan takkan bisa diolah dengan pengetahuan yang terbatas. Tak jarang kita sebagai penduduk bangsa Indonesia hanya menjadi penonton dan komentator setiap tiap kali bangsa asing menambahkan kemakmurannya di negeri kita, sebut saja tambang emas di Irian jaya yang dikuasai perusahaan asing kita hanya bisa menonton keberhasilannya. Menjadi tuan di rumah sendiri agaknya akan lebih sulit lagi dirasakan.
Bahan mentah yang tersedia di alam Indonesia ini mungkin akan sedikit menyelamatkan untuk kegiatan ekspor, namun menurut saya menjual barang mentah kurang produktif dari pada mengolahnya sendiri. Bayangkan saya kita menjual barang mentah, lalu kita akan membelinya lagi ketika sudah menjadi barang jadi, perbedaan harga pasti akan jauh terasa. Terkadang, barang jadi buatan Indonesia pun kurang dihargai oleh masyarakat Indonesia sendiri dan mereka lebih memilih membeli barang di luar negeri dengan barang yang buatan indonesia yang telah diganti merek. Sungguh miris.
Perdagangan bebas, kondisi ini akan selalu membuat kualitas menjadi harga mati untuk setiap produsen. Sifat para masyarakat Indonesia yang lebih memuja merek, akan sangat mengkhawatirkan produksi dalam negeri. Masalah yang tak kalah penting, pasar bebas berarti semua akan bebas dalam perdagangan termasuk arus modal dan tenaga kerja. Persaingan tenaga kerja akan lebih ketat, dan keahlian akan menjadi bekal utama. Namun lihatlah kondisi intelektualitas Indonesia sekarang ini, sangat memprihatinkan. Saya pernah melihat tayangan realityshow yang menampilkan keadaan masyarakat di pulau – pulau kecil, itu benar – benar sangat memprihatinkan bahkan hari kemerdekaan Indonesia pun mereka tidak tau apalagi perkara sebesar ini? Apakah layak Indonesia dibilang telah siap menghadapi Asean Economic Community di tahun 2015 mendatang? Bahkan saya sendiri sejujurnya merasa takut akan merasakan tertindas di negeri sendiri, atau bahkan kita akan kembali kemasa penjajahan seperti dahulu? Ya tentunya penjajahan yang lebih halus dan lebih modern yang tetap saja akan mencekik kesejahteraan rakyat. Lihatlah Singapura ataupun Brunai Darussalam yang bahkan sudah terdaftar menjadi negara maju di dunia dan tentunya sudah tidak perlu ditanya lagi kesiapannya. Begitu mengesankan rencana pembembuatan komunitas ekonomi ASEAN ini, namun tak kalah mengerikannya pula dampak ketidak siapan dalam menghadapinya.
Itulah beberapa masalah yang dimiliki Indonesia untuk menghadapi Asean Economic Community di balik potensi – potensi yang dimiliki. Kaum kaya akan menjadi lebih kaya dan kaum jelata akan lebih sengsara. Indonesia dengan jumlah penduduk yang padat tentunya memiliki masalah yang kompleks dan beragam. Sangat sulit untuk menutupi masalah ini perbaikan sangat diperlukan, diharapkan Pemerintah tidak pura – pura menutup mata akan masalah ini dan tidak terus – terusan memenangkan ego masing – masing pihak.

No comments:

Post a Comment

Badminton Atlet

Loading...

Music

Loading...