Sunday, February 9, 2014

Cerpen "Puncak Cinta"

Kali ini penulis akan mencoba menuliskan sebuah cerpen berjudul "Puncak Cinta" silahkan dinikmati, mohon kritik dan sarannya.



“Tok..... Tok..... Tok” Suara ketuakan pintu terdengar dari luar kamar Windy. “Win bangun, ini gue Visya” Suara lantang Visya sontak membangunkan Windy dari tidurnya.

“Iya Sya masuk aja gak gue kunci” Ucap Windy dengan nada ngantuk. 

“Jgreeg...” Visya membuka kamar Windy. “Yaampun Windy lo udah kaya tupai yang lagi hibernasi aja tau gak!” Ucap Visya gemas melihat Windy yang masih berbaring di kasur sambil menarik selimut yang dipakai Windy.

“Ahh Visya gw masih ngantuk banget semaleman ngelembur laporan yang diminta pak Dahlan!” Gerutu Windy dengan suara lirih.

“Hahaa mangkanya lo jadi anak jangan kelewat pinter dan nurut, jadi deh lo sasaran dosen buat ngerjain tugas yang sebenernya bukan tugas lo” Visya mengejek Windy yang merupakan anak kesayangan dosen sekaligus kebutuhan dosen. “Mending sekarang lo mandi terus langsung sarapan dan kita langsung berangkat kayanya kita bakalan telat kalo lo gak gerak sekarang” Ucap Visya agak melotot.

“Duhhh... Sya ngejek aja lo bisanya, lagian ini hari Minggu mata gw juga masih nyut-nyutan ngantuk” Windy masih malas-malasan.

“Win lo pinter tapi kadangan agak pikun juga ya! Kita kan ada acara kunjungan ke perkebunan teh selama seminggu buat observasi” Ucap Visya agak emosi.

“Hah, waduh sumpah gw lupa banget gara-gara ngerjain proyek penelitian kemaren, aduh mana gw belom packing sama sekali lagi” Sontak Windy langsung loncat dari tempat tidurnya dan langsung membuka lemarinya. “Duh koper mana koper” Ucap Windy kebingungan.

“Tuh udah di-packing sama nyokap lo tadi malem saking prihatinnya” Ucap Visya sambil melirik kesudut kamar terlihat koper telah rapih.

“Hihii... oke gw mandi sebentar ya” Windy langsung bergegas masuk ke kamar mandi.

*****

Para mahasiswa telah masuk ke bus yang telah terparkir di depan kampus, tak terkecuali Windy dan Visya. Semua tampak ceria, karena selain melakukan observasi setidaknya meraka semua akan merasakan liburan di puncak selama satu minggu, kecuali Windy yang wajahnya agak kusut.

“Win lo gak papa kan?” Tanya Visya agak khawatir dengan kondisi sahabat karibnya itu.

“Gak papa dari hongkong, laper gw Sya gara-gara lo ni gw gk jadi sarapan!” Ucap Windy agak lemas.

“Hahaa... Tenang-tenang tadi gw udah bungkusin elo sarapan pas lo mandi, nih” Ucap Visya sembari memberikan kotak makan berisikan dua potong roti selai cokelat dan sebotol susu cokelat.

“Tumben lo paham beginian Sya” Ucap Windy sambil melahap rotinya. Namun, seketika Windy tersedak melihat sesosok pria yang masuk ke dalam bus. 

“Win lo kenapa?” Ucap Visya ikut kaget sambil memberinya minum.

“Emang kita observasinya bareng sama anak semester 4 juga?” Ucap Windy dengan ekspresi terkejut.

“Ohh Vito maksud lo?  Emm gak semua sih cuma beberapa anak semester 4 aja yang tahun lalu belum ikut observasi, tapi kalo Vito sama temen-temennya anak semester 4 yang lain kan emang jadi pendamping Win” Visya menjelaskan sambil senyum senyum meledek Windy. Maklumlah Visya tau bahwa Windy dan Vito bernah memiliki kedekatan khusus sewaktu kelas SMA dulu, namun karena suatu alasan mereka menjadi jauh dan saling diam, Hingga sekarang pun Visya masih penasaran dengan sebab mereka jadi seperti itu maklum Visya kenal dengan Windy saat masuk kuliah.

“Hadehh apaan si lo Sya jangan ngode gak jelas gitu deh, masa iya gw tiap hari mesti ketemu dia mulu padahal angkatan juga beda sampe acara beginian ketemu juga ampun deh gw udah kekenyangan makan es!” Ucap Windy dengan wajah datar pada Visya, maklum Windy dan Vito sudah sering bekerja bersama karena pak Dahlan yang merupak dosen matakuliah kimia sering sekali meminta mereka berdua untuk melakukan penelitian bersama, pak Dahlan menganggap mereka berdua merupakan mahasiswa yang cerdas dan cocok meskipun beda angkatan. 

“Makan es?” Ucap Visya dengan wajah heran.

“Iyalah abis kalo deket dia itu berasa di kutup! Sok diem, sok berasa paling pinter. Bayangin deh lo gw harus sering kerja bareng dia gara-gara penelitian tapi ngomong paling banter iya, engga, atau yaudah! Berasa makhluk tembus pandang tau gak!” Ucap Windy dengan muka kesal.

“Hahaha emang lo dulu kenapa sih bisa sampe diem-dieman begitu sama Vito?” Visya masih dengan rasa penasarannya.

“Emmm cerita gak ya?? Vito itu dulu temen sekelas gw waktu kelas X SMA sebelum dia masuk kelas ekselerasi, kita sempet deket tapi terus ya ....” Belum sempat menyelesaikan cerita seketika Windy diam.

Tak berselang lama, si empunya  nama datang dan duduk di bangku seberang Windy, Sontak Windy pun langsung diam dan memberi kode kepada Visya untuk diam juga dan tak melanjutkan topik perbincangannya lagi. Windy pun kembali melahap rotinya dan pura pura tak melihat Vito.

“Woy Vit gw cariin lo di bus satu juga, eh taunya lo pindah ke bus dua” Suara seorang laki-laki membuat mata Windy dan Visya melirik kearah Vito dan temannya itu. Setelah menyadari Vito mengetahui lirikan itu, Windy dan Visya berbalik ke posisi semulanya.

“Elo Ndu, iya suntuk gw disana” Ucap Vito pasang muka suntuk.

“Hahahaa Lani maksud lo?” Ucap Pandu yang merupakan sahabat dekat Vito, sambil duduk di bangku samping Vito.

“Hemm tau deh” Vito menjawab pelan.

****

Setelah perjalanan cukup panjang dari Jakarta menuju puncak akhirnya bus pun tiba di tempat tujuan. Seluruh mahasiswa pun segera turun dari bus. Saat Windy bangkit dari kursinya dan bergegas turun dari bus, secara besamaan Vito pun bangkit dari kursinya dan akhirnya pun mereka berdua bertabrakan. Tas Vito dan tas Windy pun jatuh, dan secara bersamaan pula mereka mengambil tasnya masing-masing. Saat mereka bertabrakan dalam satu pandangan, tak sadar pun Windy mengingat pertama kali mereka berdua berkenalan saat kelas X SMA, saat itu Vito membantu Windy mengerjakan soal kimia yang diberikan oleh Ibu guru dipapan tulis, karena saat itu Windy memang sangat lemah dalam hal pelajaran eksak berbeda jauh dengan Windy yang sekarang yang merupakan mahasiswa kesayangan dosen.

“Vito kamu ngapain lagi deket deket sama ni cewek centil!” Suara itu membuyarkan lamunan Windy dan membuat Windy dan Vito segera berdiri. “Minggir lo sana jangan deket-deket Vito!” Cewek yang membuyarkan lamunan Windy tadi mendorongnya.

“Lan apaan sih lo!” tegor Vito pada cewek yang bisa dibilang penggemar beratnya itu, sampai-sampai kemana pun Vito pergi selalu ada dia. 

Maklum Vito merupakan salah satu mahasiswa idaman di kampusnya dengan bermodalkan wajah yang tampan, kulit yang putih, postur tubuh yang tinggi, apalagi ditambah dengan otaknya yang encer membuatnya semakin terkenal dikampus. Meskipun begitu, Vito jauh dari kata-kata playboy karena samapai dengan sekarang ia masih menjoblo.

“Hihh siapa juga yang mau deket-deket!” Ucap Windy dengan raut muka greget sambil keluar dari bus diikuti oleh Visya.

*******

“Wihh udaranya Sya enak banget, dari dulu puncak emang nyaman banget” Ucap Windy sambil mengembangkan senyum cantik di wajahnya hingga lesung pipinya tampak lekat.

“Iya Win sejuk banget” Visya menanggapi ucapan Windy.

Keduanya memandang jauh perbukitan yang ada di sekitar mereka sekarang. Angin berhembus pelan dan membuat rambut Windy yang terurai secara perlahan berayun. Saat mereka berdua sedang menikmati suasana itu, seorang laki-laki berbadan tegap nan tamoan menghampiri keduanya.

“Hey Win, Sya” Sapa laki-laki itu membuat keduanya menengok.

“Kak Bayu” Ucap Windy sambil tersenyum dan diikuti senyuman Visya.

“Gimana lokasinya, asikkan?” Ucap Bayu ditambah senyuman manisnya membuat Windy juga ikut tersenyum.

“Iya bangus” Ucap Windy mengiyakan pendapat Bayu.

“Emm gw kayanya mesti pergi sebentar deh ntar kelamaan disini jadi ganggu, Daa Windy. Duluan ya kak” Ucap Visya menggoda Windy dan Bima sembari tersenyum dan meninggalkan keduanya.

Windy dan Bayu mengiyakan pamitan Visya sembari tersenyum. Kemudian keduanya berbincang bersama. Tak terasa sepasang mata yang berada diseberang sana sedang mengintai Windy dan Bima dengan pandangan datar.

“Vit lo ngapain ngliatin Windy sama Bayu segitunya” Ucap Pandu sambil tertawa.

“Engg... Enggaklah ngapain, enak aja lo!” Ucap Vito 

“Lo kenapa sih sama Windy? Tiap hari barengan tapi tetep aja kaya air sama minyak, mau satu tempat kek gak bisa satu juga! Heran gw, bisa ya lo orang dua satu tim ngerjain penelitian, laporan, segala kerjaanlah yang di suruh sama pak Dahlan pake diem-dieman kaya gitu? Kalo salah nuang cairan kimia terus meledak gosong ntar muka lo Vit!” Pandu berbicara penuh ekspresi.

Mendengar perkataan Pandu yang panjang lebar itu, Vito melengkungkan senyuman dibibirnya “Gw sama Windy gak segitu oonnya kali Ndu” Ucap Vito meneruskan ekspresi wajahnya lalu meninggalkan Pandu.

“Woy Vit mau kemana? Lo ini kalo di kasih tau ngabur aja teross” Pandu berujar keras. Vito pun terus berlalu tanpa menghiraukan perkataan Pandu.

****

Keesokan harinya, para mahasiswa langsung melakukan observasi dilahan perkebunan teh. Memang nasib Windy harus selalu bersama dengan Vito, ternyata Windy mendapat tutor yang tak lain adalah Vito namun Windy tak sendiri, ia bersama Visya, Rara, Dino, dan Indra.

“Win... Windy!” Visya menegur Windy yang terlihat sangat suntuk dan memperlihatkan muka jengkel.

“Apaan Sya” Windy menjawab lirih serasa gak mood ngomong.

“Muka lo keliatan banget bete, jangan  gitu Win gak lucu kan kalo Vito ngasih nilai E ke elo Cuma pekara masalah gak jelas!” Visya berujar pelan di sebalah Windy saat Vito sedang memberikan pengarahan pada mahasiswa asuhannya.

“Hemm” Windy mengiyakan.

Windy pun melanjutkan observasinya tanpa menghiraukan Vito lagi, dan akhirnya observasi untuk hari ini selesai. Kemudian para mahasiswa diperbolehkan untuk beristirahat.

****

Di belakang bukit ada sebuah sungai yang memiliki air yang jernih dan pemandangan yang elok. Para mahasiswa pun banyak yang tertarik untuk pergi ke sana tak terkecuali Windy dan Visya. Tak terasa sang surya pun hampir tenggelam di ufuk barat dan seluruh mahasiswa pun kembali ke perkemahan.

“Win balik yuk, yang lain udah pada balik” Ujar Visya kepada Windy.

“Ntar Sya, lo duluan aja” Jawab Windy sambil sibuk celingukan mencari sesuatu.

“Lo lagi nyari apaan sih Win?” Tanya Visya heran.

“Emm itu tuh gelang gw yang sering gw bawa, udah gapapa lo duluan aja” Ucap Windy.

“Emm yaudah deh, lo jangan lama-lama ya udah ketemu langsung balik ke tenda ya” Ucap .
Visya agak khawatir.

“Sip” Ucap Windi sampil mengacungkan ibu jarinya, dan Visya akhirnya kembali duluan ke tenda.

*****

Matihari sudah benar-benar tenggelam digantikan cahaya rembulan, akan tetapi Windy belum kembali ke tenda juga. Visya tampak gelisah menantikan kedatangan Windy, raut wajahnya tampak menyesal meninggal Windy saat di sungai tadi. Kakinya tak henti-henti melangkah mondar-mandir.

“Sya lo kenapa sih, gelisah banget? Tumben Windy gak keliatan?” Ucap Pandu yang lewat bersama dengan Vito.

“Duhh itu masalahnya, Windy belum pulang juga dari sungai tadi” Ucap Visya cemas.

“Windy ngapain masih disana? Kok lo gak temenin dia?” Mendadak Vito ikut cemas.

“Tadi katanya dia mau cari gelangnya yang jatoh, nah dia nyuruh gw balik duluan” Ucap Visya hampir menangis karena sangat khawatir dengan Windy.

Mendengar perkataan Visya, tanpa pikir panjang Vito langsung berlari menuju sungai.

“Yaudah lo tunggu sini aja dulu ya. Vit tunggu vit” Ucap Pandu sambil berlari mengikuti Vito.

Setelah sampai di sungai, Vito dan Pandu langsung mencari Windy.
“Windy ....... Windy ....... Windy” Teriak Vito dan Pandu bergantian.

Mata Vito terbelalak ketika melihat Windy yang pingsan di pinggir sungai, sepertinya Windy terpeleset, kakinya memar dan ada darah di dahinya.

“Windy....” Teriak Vito seraya menghampiri Windy dan diikuti oleh Pandu.

Vito langsung melepas jaket miliknya dan memakainnya kebadan windi yang telihat menggil kedingian, kemudian Vito dan Pandu langsung membawa Windy kembali ke tenda. Visya telah menunggu di tenda sejak tadi, langsung merawat Windy. Vito yang juga menunggu Windy di luar tenda sangat khawatir, terlihat raut muka yang sangat peduli untuk Windy bahkan sampai dia tidak bisa tidur.

*******

Keesokan harinya, aktivitas berlangsung seperti biasa semua mahasiswa melakukan observasi seperti biasa tak terkecuali Windy yang sudah pulih seperti biasa.

Setelah kelompok belajar yang ditutori oleh Vito selesai semuanyanya pun langsung bergi untuk beristirahat, hanya tinggal Vito dan Windy.

“Lo udah sembuh?” Tanya Vito dengan ekspresi datar.

“Udah kok, Oya makasih ya kemaren lo udah nolongin gw” Ucap Windy.

“Iya sama-sama” Ucap Vito masih tanpa ekspresi.

“Oya gw boleh tanya sesuatu gak sama lo?” Windi mulai melihat kearah Vito

“Apa?” Ucap Vito.

“Emmm... kenapa sih lo dulu ninggalin gw gitu aja, tiba-tiba lo menyukin gw, dingin sama gw tanpa lo jelasin apa-apa?” Ucap Windy sedikit ragu.

Mendengar pertanyaan yang terlontar dari mulut Windy, Vito berubah jadi sedikit muram.

“Gw lagi males bahas itu!” Ucap Vito lirih sambil berancak meninggalkan Windy seperti ada sesuatu yang mengganjal didalam hatinya yang terlihat menyakitkan.

“Apa dulu lo malu punya cewe yang bodoh kaya gw?” Ucapan Windy sontak langsung menghentikan langkah kaki Vito dan membuat Vito berbalik arah lagi.

“Maksud lo?” Ucap Vito agak heran dengan ucapannya.

“Iya! Lo malu kan punya cewe bodoh yang gak bisa apa-apa kaya gw? Yang jelas jauh beda sama Sania yang pinter dan tenar jauh ngelebihin gw di SMA dulu!” Ucap Windy yang mulai terbakar emosi mengingat kejadian sewaktu SMA dulu.

“Lo salah Win! Gw jauhin lo karena Sania bilang ke gw kalo lo dekitin gw cuma lantaran mau buktiin ke temen-temen lo kalo lo juga bisa buat cowo pendiem kaya gw ini suka sama lo dan gak tau kenapa gw langsung percaya sama dia dan mulai gak percaya sama lo” Ucap Vito penuh ekspresi
Mendengar pernyataan yang ucapkan oleh Vito, tak terasa linang air matanya jatuh berderai di pipi. Mengapa perasaan tulusnya tak pernah Vito terima dengan kepercayaan.

“Sania lagi Sania lagi, emang mungkin lo gak pernah bener-bener tulus sama gw, cuma Sania yang selalu lo percaya!” Ucap Windy langsung pergi meninggalkan Vito dengan tetesan air mata.

Vito yang ditinggalkan di situ merasa sangat bersalah telah menyakiti hati Windy.

****

Tak terasa waktu seminggu observasi sudah berakhir, hari ini waktunya seluruh mahasiswa kembali ke Jakarta. Seluruh mahasiswa pun langsung memasuki bus, takterkecuali Windy dan Visya. Saat ingin masuk ke bus, lengan Windy ditarik keluar oleh seseoran yang ternyata adalah Vito.

“Ikut gw sebentar” Ujar Vito sambil menuntun Windy menuju kesebuah tempat.

“Lo mau ngapain sih?” Ucap Windy dengan ekspresi kesal.

“Gw Cuma mau balikin ini ke elo” Vito memberikan sebuah gelang mutiara berwarna putih yang ditemukan Vito di sungai kemarin kepada Windy dan Windy menerimanya.

“Lo masih simpen gelang itu Win?” Tambah Vito.

“I..iya mau gw balikin ke elo” Ucap Windy menutupi perasaannnya.

“Jangan! Gw harap lo juga masih simpen perasaan elo ke gw, karena sebenernya gw juga gak pernah bisa buang perasaan gw ke elo Win bahkan sampe sekarang. Elo tau gak, kalo sebenernya yang minta pak Dahlan buat ngerjain penelitian apa pun itu sama lo itu gw karena gw selalu pengen ada di deket lo Win tapi mungkin gw terlalu angkuh buat ngakuin semuanya. Lo mau maafin gw kan? Terima gw lagi ya” Ucap Vito mencurahkan seluruh perasaannya pada Windy.

Mendengar pengakuan dari Vito, Windy benar-benar tak menyangka jika perasaan Vito ternyata sama dengannya. Windy pun mengangguk tanda menerima dan Vito pun memegang kedua tangan Windy hendak mencium kening Windy namun .....

“Cieeeeee” Teriak seluruh mahasiswa yang tadi berada di bus, ternyata sudah menyaksikan Vito dan Windy sedari tadi. Windy dan Vito pun tersipu malu.

No comments:

Post a Comment

Badminton Atlet

Loading...

Music

Loading...